nhawadaa chan
Tajuk fatwa                 :     Hukum Membaca Al Qur'an Dengan Pengeras Suara Saat Takziyah Untuk Keluarga Almarhum Atau Ketika Membawanya Ke Peristirahatan Terakhir.

Nomor fatwa                :     137
Tanggal penambahan :     Kamis 5 Jumadilakhir  1425 H.  bertepatan dengan  22 Juli 2004 M.
Pihak pemberi fatwa  :     Fatwa Syekh Saleh al-Fauzan
Sumber fatwa              :     [Fatwa-Fatwa Al Fauzan, Nur 'Ala Ad Darb, disiapkan oleh Musa Abu Syihah, jilid 2]


  Soal:


Ketika ada seseorang yang meninggal, orang-orang meninggikan suara Al Qur'an dengan pengeras suara di tempat takziyah. Dan ketika membawa mayit itu dengan mobil mayit, mereka juga meletakkan pengeras suara di sana sehingga hanya dengan mendengar Al Qur'an saja, seseorang dapat mengetahui bahwa di sana terdapat mayit. Dengan begitu orang itu berputus asa dengan mendengar Al Qur'an, sampai-sampai dia tidak membaca Al Qur'an kecuali ketika ada kematian. Apakah hukum masalah ini, dengan memberikan nasihat kepada orang-orang seperti itu?


  Jawab :


Tidak diragukan lagi bahwa perbuatan ini adalah bidah dan tidak pernah ada pada masa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam atau pada masa para sahabat. Al Qur'an akan meringankan kesedihan jika dibaca dengan perlahan, bukan dengan suara keras dengan memakai pengeras suara. Sebagaimana berkumpulnya keluarga mayit untuk menerima orang-orang yang bertakziah juga termasuk hal-hal yang tidak pernah diketahui, sampai-sampai sebagian ulama mengatakan bahwa hal itu bidah. Maka dari itu kami tidak berpendapat bahwa keluarga mayit harus berkumpul untuk menerima belasungkawa, bahkan mereka menutup pintu. Dan jika mereka bertemu dengan seseorang di pasar, atau salah satu kenalan mereka datang tanpa mengadakan perjanjian untuk pertemuan itu, maka hal ini tidak apa-apa.

Adapun menerima orang-orang untuk takziyah, hal ini juga tidak pernah dikenal di zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam Bahkan para sahabat menganggap berkumpulnya keluarga mayit dan membuat makanan untuk itu termasuk dalam niyahah (perempuan yang berkumpul untuk menangisi mayit). Niyahah sebagaimana diketahui adalah salah satu dosa besar. Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang-orang perempuan yang berkumpul untuk menangisi mayit dan wanita pendengarnya. 


Beliau bersabda: "Perempuan yang menjerit menangisi mayit apabila tidak bertobat sebelum meninggalnya, maka dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan di tubuhnya terdapat baju dari bahan yang hitam dan kental dan perisai dari kudis". 


Kita memohon kepada Allah kesehatan. Maka pesan saya untuk saudara-saudara saya agar meninggalkan hal-hal baru seperti ini, karena lebih baik bagi mereka di sisi Allah dan lebih baik juga bagi mayit. Karena Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa mayit terazab dengan tangisan keluarganya dan ratapan mereka. Terazab di sini berarti merasa sakit karena tangisan dan ratapan ini meski dia tidak dihukum seperti hukuman orang yang melakukannya, karena Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: Seorang pendosa tidak akan memikul dosa orang lain [Al An'aam:164]. 


Azab bukanlah suatu hukuman. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Perjalanan adalah merupakan secuil azab". Bahkan rasa sakit, gelisah, dan yang sejenisnya juga termasuk azab. Di antara kalimat yang tersebar di antara manusia: "Perasaanku menyiksaku". 


Kesimpulannya, saya menasihati saudari-saudari saya untuk menjauhi kebiasaan-kebiasaan seperti ini, yang hanya akan menambah jauh dari Allah saja, dan tidak menambah bagi mayit kecuali siksaan.


http://www.qurancomplex.com/qfatwa/display.asp?f=137&l=ind&ps=subFtwa


0 Responses

Poskan Komentar